Pertimbangan Sosial Budaya dalam Pemanfaatan Hutan

Testmoni – Kursus ini memiliki tujuan  seni sintesis aplikasi mode metode berasal dari perspektif antropologi dalam mencapai dan Imagemembantu berbagai kalangan masyarakat, sosial budaya di daerah kehutanan yang berhadapan dengan kerentanan ekologi. Roncoli (2006) menyimpulkan temuannya dengan mengusulkan bahwa metode yang diterapkan bergerak dari paradigma “teknologi-adopsi” ke perspektif yang lebih luas pada kerentanan dan adaptasi.

Antropologi ekologi juga makin mendekati untuk memahami kehidupan masyarakat, menyusul paragdigma “negara” (Scott, 2010). Pergeseran paradigma ini memiliki konsekuensi lebih lanjut untuk ruang lingkup, desain, dan pendekatan interkoneksi pemangku kepentingan, alat dan teknik, termasuk inovasi seperti proses lapangan untuk lebih menghubungkan para ilmuwan dan lembaga mereka dengan kehidupan kawasan hutan untuk mempersiapkan kualitas penyuluhan peningkatan hidup di antara masyarakat kehutanan. Dengan pemikiran ini, kita akan membaca beberapa kalimat untuk menganalisis beberapa studi kasus di lapangan dan pada saat yang sama menggunakan wawasan dari studi kasus ini untuk mengatasi perdebatan saat ini tentang dinamika sosial-budaya di antara masyarakat kehutanan.

DSCN2313Topik tertentu telah muncul untuk menawarkan berbagai perspektif tentang bagaimana orang berinteraksi dengan lingkungan mereka. Ini termasuk diskusi Penilaian Dampak Sosial (SIA), kognisi, pengetahuan dan adaptasi pemetaan, dan konflik, konsensus dan politik-politik lokal.

Banyak penelitian berusaha untuk memahami pengaruh faktor-faktor interaksi antara manusia dan lingkungan mereka, kita akan membahas masing-masing pada gilirannya/secara berurutan. Sejalan dengan pergeseran yang jelas, yang diusulkan tentu saja hal ini memiliki tujuan untuk mengembangkan pemahaman kolaborasi antar pemangku kepentingan antara negara, masyarakat dan organisasi non pemerintah dalam upaya meningkatkan proses partisipatif dan belajar mereka dalam program ini.

Diharapkan dengan berdasarkan pengamatan rinci kalangan masyarakat akan memperkaya pengetahuan dan kemampuan antisipatif dari instansi pemerintah dalam kesepakatan dengan perubahan lingkungan, termasuk perbaikan ruang lingkungan.

Salah satu yang dipelajari dalam model The Rain Forest Standard adalah tentang  Aspek- Sosial Budaya
DSCN2312dari Pengelolaan dan Konservasi Hutan. Para pengampu dari akademis juga aktivis di lembaga swadaya masyarakat di bidang sosial dan pertanahan.

Peserta pelatihan dibuka wawasannya mengenai masyarakat  dan persoalan  yang komplek 
dalam sistem sosial dan budaya. Pendapat lain mengenai pertimbangan sosial budaya dalam pemanfaatan hutan ini  cukup rumit dan berat.  Soal  sosial budaya dalam pemanfaatan hutan,  berkaitan dengan masyarakat dan  mempengaruhi kehidupan mereka.

Kesan berbeda peserta saat mengulik  materi di kelas sosial budaya  dalam pemanfaatan hutan, adalah menyimak Hari Kushardanto dari RARE Conservation. Saat menyampaikan materi , pengajar dari RARE ini memberikan contoh kasus tentang stake holder dan share holder, sehingga peserta training turut aktif  untuk membongkar  contoh kasus.

Pertimabangan sosial budaya dalam pelatihan membahasa juga  hal yang berkaitan dengan sumber daya hutan, ekologi, politik  dan masyarakat di sekitar hutan.

Pelatihan mendatang, untuk kasus sosial budaya ada contoh penilaian/ranking langsung mengenai kasus di daerah, dan sebaiknya ada kunjungan ke daerah untuk belajar kasus. [RCCCUI|2013]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s